Kritik kapitalisme AS dari pandangan seorang warga AS tentunya akan memberikan rasa penasaran yang berbeda. Termasuk rasa penasaran kita mengapa sistem kapitalisme tidak mendapat tentangan berarti dari masyarakat AS sementara pada saat yang bersamaan kapitalisme begitu dikutuk di beberapa negara.
Chomsky memulai pandangannya tentang pilar penyokong Imperialisme ini melalui pendapat Lenin, yaitu bahwa ciri-ciri imperialisme itu ada lima hal:
1. Konsentrasi kapital, baik dalam bentuk konglomerasi ataupun monopoli;
2. Meleburnya kekuasaan kapital finance, industri dan birokrasi;
3. Ekspor kapital dalam bentuk investasi-investasi industrial;
4. Pembagian ekonomi dunia oleh perusahaan multinasional dan korporasi transnasional melalui kartel internasional;
5. Pembagian politik dunia oleh negara-negara maju.
Samir Amin, Marxis berkebangsaan Mesir menyapaikan bahwa imperialisme bukanlah tahap kapitalisme, tetapi inhern dalam setiap ekspansi kapitalisme. Sepanjang sejarah, imperialisme telah melalui tiga tahap, yaitu:
1. Fase pertama;
Terjadi pada masa ekspansi kapital merkantilis Eropa Atlantis yang menghancurkan benua Amerika. Dua aktor utamanya adalah Spanyol dan Inggris. Terjadi Hispano-Kristenisasi dan genosida total atas masyarakat Indian, di mana Amerika Serikat berdiri di atasnya.
2. Fase kedua;
Terjadi pada Revolusi Industri Inggris, di mana berujung kepada penakhlukan Asia-Afrika. Penakhlukan ini berujung adanya pasar baru bagi perdagangan Eropa.
3. Fase ketiga;
Terjadi dengan ditandainya persenyawaan halus antara menguatnya kekuatan ekonomi korporasi dengan globalisasi teknologi, informasi dan pengetahuan.
Fenomena Globalisasi;
a. Meningkatnya kekuasaan perusahaan-perusahaan multinasional dalam perdagangan global;
b. Revolusi informasi dan ilmu pengetahuan;
c. Munculnya masyarakat yang berbasis jaringan (network society);
d. Menguatnya peranan lembaga keuangan internasional;
e. Perdagangan bebas yang melampaui negara-bangsa;
Pilar penyangga Imperialisme
1. Demokrasi dan Pendidikan
Salah satu faktor kunci yang dipaparkan adalah lemahnya kemampuan institusi pendidikan dalam mengembangkan budaya kritis dalam masyarakat. Untuk memperkuat hipotesisnya, Chomsky mengutip beberapa hasil penelitian, salah satunya adalah studi UNICEF terbitan tahun 1993 dengan judul Child Neglect in Reach Societies yang ditulis oleh ekonom AS, Sylvia Ann Hewlett. Studi itu menyatakan bahwa sementara orang tua terlalu mempercayakan urusan pendidikan anak-anaknya kepada lembaga pendidikan formal, waktu aktual yang dihabiskan oleh orang tua untuk akrab kembali dengan dirinya bersama anak-anaknya merosot tajam dalam dua puluh tahun terakhir di negeri Anglo-Amerika. Hal ini membawa kehancuran identitas dan nilai-nilai keluarga. Juga membawa ketergantungan yang tajam terhadap televisi sebagai teman anak-anak. Juga membawa pada apa yang disebut sebagai ”anak-anak yang teryatimkan”; yaitu anak-anak yang hidup tanpa asuhan orang tua, dan ini menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya alkoholisme, penyalahgunaan obat-obatan, kriminalitas serta dampak-dampak buruk lain terhadap kesehatan, pendidikan, serta kemampuan berpartisipasi dalam suatu masyarakat yang demokratis. Kemampuan berpartisipasi ini, menurutnya, karena semakin merosot maka setiap manusia produk doktrinasi akan menjadi manusia yang apolitis. Disadari maupuntidak, mereka akan lebih mempercayakan kekuasaan kepada kalangan tertentu. Menurut Chomsky, itu semua merupakan produk dari kebijakan-kebijakan sosial yang secara sengaja dirancang demi tujuan-tujuan tertentu, yaitu untuk memperkaya kalangan tertentu, namun memiskinkan yang lain. Ketika situasi ini dikombinasikan dengan sistem tirani politik, maka terpenuhilah syarat bagi adanya masyarakat yang terjinakkan.
2. Historical Engineering
a. Keterampilan Rekayasa Sejarah
Dalam upaya menyebarluaskan pengaruhnya terhadap negara-negara di sekitarnya, AS seringkali menggunakan cara-cara yang akibatnya dapat memakan ”biaya kemanusiaan” yang tinggi. Chomsky mencontohkan keterlibatan media dalam melakukan rekayasa sejarah (historical engineering) utamanya keterlibatan CIA dalam mengendalikan media di AS terkait konflik politik di beberapa negara Amerika Latin (Nikaragua, El Savador, Honduras, dan Kosta Rika). Chomsky dalam buku ini ingin menunjukkan bahwa pemerintah AS yang didukung oleh media massa telah beberapa kali menyebarkan fitnah terhadap Sandinista, namun pada saat bersamaan mereka menutup-nutupi kehancuran akibat sabotase dan pembunuhan yang dilakukan oleh kelompok Contra bentukan CIA. Pemalsuan berita tersebut melibatkan beberapa surat kabar terkemuka seperti Times, New York Times, dan Washington Post.
b. Kewajiban Tutup Mulut
Sebagai seorang Yahudi, Chomsky juga menaruh perhatian terhadap konflik di Palestina. Apa yang ia temukan di Palestina pun tak jauh beda dengan apa yang terjadi di Amerika Latin. Ia mengungkapkan bahwa kekejaman yang dilakukan oleh tentara Israel terhadap para pejuang intifada’ jarang sekali yang muncul di media Israel (utamanya media massa Yahudi). Bahkan seorang pejabat resmi Kementerian Luar Negeri Israel, setelah kembali dari tugas perbantuannya dalam militer, melaporkan bahwa sebagian besar kejadian-kejadian kekerasan dan kekejaman di wilayah-wilayah konflik sama sekali tak pernah sampai ke publik.
Intervensi Amerika Serikat ke dunia ketiga, banyak menggunakan kekerasan seperti di atas. Namun Amerika Serikat memberlakukan dan menekankan perilaku membisu dan membenarkan diri atas kejahatan-kejahatan negaranya sendiri dan negara-negara kliennya, ketika kesediaan untuk menerima fakta-fakta akan menjadi penghambat atas pengembangan kekuasaannya. Hal ini program standar yang diberlakukan, yang justru berjalan sampai tingkat Pengadilan, serta Menteri Pertahanan Amerika Serikat-lah sebagai komando langsungnya. Amerika Serikat menekankan kewajiban untuk mengundang pujian dan kekaguman terhadap intelektual-intelektualnya.
c. Pertemuan Tingkat Tinggi
Dalam pertemuan tingkat tinggi yang seperti yang dilakukan oleh Gorbachev dan Reagan, hanyalah pembicaraan yang disetujui saja yang boleh diberitakan ke publik. Berita seperti kekalahan voting kubu Amerika serikat dalam Sidang PBB, itu termasuk dilarang untuk diberitakan. Dalam pertemuan tingkat tinggi, berita yang boleh disampaikan ke publik adalah seakan-akan Reagan adalah sebagai seorang pencipta perdamaian dan semangatnya terhadap hak asasi manusia, serta capaian-capaian Reagan yang harus ditonjolkan.
Perlakuan yang tidak jauh berbeda adalah dalam konferensi Pers yang diadakan di Cruch Centre dekat gedung PBB oleh Koalisi Hak Asasi Manusia. Namun Pers di luar kubu Amerika Serikat menolak untuk mengekor terhadap Washington.
d. Media dan Opini Internasional
Pada dasarnya tidak semua voting yang dilakukan di dalam Sidang PBB dipublikasikan secra terbuka. Hanya sebagian kecil saja yang boleh dipublikasikan. Dalam voting (pengambilan keputusan) PBB selalu saja masuk dalam kubu yang menentang resolusi. Dalam sidang PBB, mayoritas dari perwakilan dunia ketiga mulai memojokkan Amerika Serikat yang selalu selalu menolak resolusi, sehingga mereka mulai bernada skeptis dan sedih terhadap keberadaan PBB.
Mayoritas anggota PBB, mulai mengecam keberadaan lembaga ini dan lembaga internasional lainnya karena lembaga-lembaga ini sudah tidak mampu lagi bekerja sesuai harapan karena telah didominasi oleh negara sekuat Amerika Serikat. Namun Amerika Serikat tetap saja melancarkan ekspansi pasarnya ke dunia, tanpa mengindahkan putusan-putusan dalam Sidang PBB.
e. Penghancuran Kesepakatan-Kesepakatan
Kesepakan Esquiplas, yang berisikan tentang proses demokratis dan partisipatoris, dan pluralistis untuk memajukan keadilan sosial, penghormatan terhadap hak asasi manusia, kedaulatan, integritas teritorial negaradi kawasan tersebut; dan hak tiap negara untuk menentukan secara bebas tanpa campur tangan asing, model ekonomi, politik dan sosialnya. Kesepakatan ini merupakan kesepakatan perdamaian di Amerika Tengah.
Perdamaian terhadap Nikaragua yang dituangkan dalam Kesepakatan Esquipulas, telah menggerakkan kampanye pemerintah Amerika Serikat untuk membubarkan kesepakatan tersebut dan bersikeras dengan pilihan-pilihan serangan militer, sambil dibarengi dengan teror negara yang diperlukan untuk tetap mempertahankan agar negara-negara demokrasi yang masih hijau tetap sehaluan dengan Amerika Serikat. Hal ini juga diberlakukan terhadap negara-negara lain yang masih memiliki ketergantungan terhadap Amerika Serikat.
Singktnya, Amerika Serikat selalu mengadakan pelenyapan-pelenyapan total atas fakta-fakta paling penting yang berkenaan dengan kesepakatan perdamaian, belum lagi pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan bukti dramatis dari karakter boneka dari tentara bayaran yang diselundupkan ke negara-negara lain.
3. Demokrasi Pasar di Tengah Tatanan Neolib: Doktrin dan Realitas
Kemenangan Amerika Serikat dalam perang dingin, merupakan kemenangannya prinsip-prinsip politik ekonomi demokrasi dan pasar bebas; yang menjadikan Amerika serikat sebagai penjaga gerbang sekaligus model teladannya.
Kekuatan struktur internal entitas-entitas korporat yang berwatak totalitarian dan sangat tidak bertanggung jawab kepada publik, justru semakin membesar sebagai buah dari kebijakan-kebijakan sosial yang berusaha mengglobalisasikan model struktur Amerika Serikat ke Dunia Ketiga.
Kawasan dunia manapun, apabila pengaruh Washington besar, justru kemajuan demokrasinya sangat kecil, sementara di mana ada kemajuan demokrasi, peran Amerika Serikat akan marginal atau negatif. Kesimpulannya adalah bahwa Amerika Serikat sesungguhnya hanya berusaha mempertahankan tatanan dasar dari masyarakat tidak demokratis dan menghindari terjadinya perubahan berbasis rakyat serta niscaya untuk menciptakan bentuk-bentuk perubahan demokratik. Amerika Serikat justru akan selalu membangun bentuk-bentuk demokrasi top-down yang tidak membahayakan struktur kekuasaan Amerika serikat dan sekutu-sekutunya.
James Madison berpendapat bahwa untuk melindungi minoritas kaum kaya dari ancaman campur tangan mayoritas kaum miskin, maka kekuasaan politik harus ada ditangan kaum kaya, orang-orang yang memiliki simpati besar dengan hak milik dan menjadi pemegang kekuasaan yang bisa dihandalkan untuk melindunginya. Sementara lapis masyarakat lain harus dimarginalkan dan dipecah-belah agar tercipta partisipasi publik yang terbatas di wilayah arena politik.
Konstitusi Amerika Serikat secara intrisik merupakan suatu dokumen aristokratik yang dirancang untuk membenarkan tendensi demokratik; dengan cara memberikan kekuasaan kepada orang-orang yang lebih “layak” dan mengecualikan mereka yang tidak kaya, yang tidak punya garis keturunan bagus, atau yang tidak punya status menonjol dari kekuasaan politik.
Uraian di atas, oleh Chomsky dipergunakan untuk membantu kita dalam memahami tentang demokrasi pasar. Demokrasi di luar negeri haruslah mencerminkan model yang diperjuangkan di dalam negeri Amerika Serikat: yaitu bentuk kontrol top-down, di mana publik cukup menjadi penonton dan tidak turut berpartisipasi dalam wilayah pengambilan keputusan, sebuah wilayah yang harus mengecualiakn orang bodoh, miskin dan rewel.
WTO
Pemerintahan Bill Clinton, menyepakati adanya WTO sebagai alat baru bagi kebijakan luar negeri, yang bisa memaksa negara-negara lain untuk mengubah hukumnya dan praktik mereka agar sesuai dengan tuntutan Amerika Serikat, yang tentu saja ingin agar negara-negara itu menyerahkan sistem komunikasi mereka, terutama kepada megakorporasi Amerika serikat dan merupakan alat untuk mengancam demokrasi yang tidak tunduk ke Amerika Serikat.
NAFTA
Tujuan lain dari NAFTA adalah mengunci langkah Mexico agar mengikuti jalur reformasi yang memungkinkannya mencapai suatu keajaiban ekonomi, yaitu keajaiban di mana investor-investor Amerika Serikat dan orang kaya di Mexico bisa mengembangkan kapitalnya; serta sementara rakyat tenggelam dalam penderitaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar